InternasionalJakarta

Webinar Internasional: Perempuan dan Pendidik sebagai Pilar Perdamaian dan Kesetaraan Gender

0
×

Webinar Internasional: Perempuan dan Pendidik sebagai Pilar Perdamaian dan Kesetaraan Gender

Sebarkan artikel ini

Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional, diskusi ini menyoroti peran strategis perempuan dan pendidik dalam membangun kohesi sosial.

Jakarta,ambar-news.com Dalam upaya memperjuangkan kesetaraan gender dan memperkuat peran perempuan dalam perdamaian, sebuah webinar internasional bertajuk “Perempuan dan Pendidik sebagai Pilar Perdamaian: Kesetaraan Gender dalam Membangun Kohesi Sosial” digelar sebagai bagian dari perayaan Hari Perempuan Internasional.

Webinar ini menyoroti tantangan yang masih dihadapi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keterbatasan akses terhadap pendidikan dan sumber daya ekonomi, hingga kurangnya representasi dalam kepemimpinan. Selain itu, perempuan sering kali menghadapi diskriminasi berbasis gender yang menghambat peran mereka sebagai agen perdamaian.

Dalam diskusi ini, para pembicara membahas bagaimana kesetaraan gender bukan hanya hak asasi manusia, tetapi juga landasan utama bagi keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan. Deklarasi Beijing (1995) dan Resolusi PBB 1325 tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan (2000) menjadi dasar penting dalam memperkuat kontribusi perempuan dalam pencegahan konflik, rekonstruksi pasca-konflik, dan upaya menjaga keamanan global.

Pentingnya Perempuan dalam Perdamaian dan Pendidikan

Dalam dunia yang semakin beragam secara budaya dan agama, perempuan memiliki peran kunci dalam memperkuat toleransi, mendorong inklusi sosial, dan membangun kohesi masyarakat. Agama dan kepercayaan menjadi faktor penting dalam kehidupan jutaan orang, sehingga kebebasan beragama harus dijamin untuk semua individu, termasuk perempuan.

Pendidikan menjadi salah satu alat utama dalam mencegah konflik berbasis agama dan mempromosikan harmoni sosial. Guru dan pendidik berperan strategis dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender sejak dini. Dengan pendidikan yang inklusif, generasi mendatang dapat lebih sadar akan pentingnya kesetaraan dan harmoni sosial.

Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) menjadi salah satu solusi dalam membangun masyarakat yang toleran dan kohesif. Melalui LKLB, perempuan dan pendidik memiliki potensi besar dalam mencegah konflik berbasis agama dan budaya, serta mempromosikan dialog lintas agama untuk memperkuat kepercayaan antar kelompok.

Para Pembicara dan Perspektif Multidimensional

Webinar ini menghadirkan berbagai pakar yang membahas peran perempuan dan pendidik dari perspektif yang berbeda:

Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. membahas bagaimana agama dapat mendorong kesetaraan gender dan mendukung perempuan dalam membangun kohesi sosial.

Indah Nuria Savitri menjelaskan peran perempuan dalam diplomasi global untuk memperkuat perdamaian dan mencegah diskriminasi berbasis gender.

Mercy Chriesty Barends, S.T. mengangkat peran perempuan dalam kepemimpinan dan kebijakan inklusif yang berkeadilan.

Dr. Katherine Marshall menyoroti pentingnya membina kohesi sosial dan mencegah stereotip negatif berbasis agama atau kepercayaan.

Prof. Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A. membahas bagaimana LKLB dapat menjadi sarana transformasi sosial dalam menciptakan masyarakat yang lebih harmonis.

Dr. Giovanna R. Czander mengungkapkan bagaimana perempuan dapat mempromosikan perdamaian melalui pendidikan dan dialog budaya.

Kesimpulan: Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Setara

Webinar ini menegaskan bahwa upaya menciptakan masyarakat yang damai dan setara membutuhkan kolaborasi multipihak, termasuk lembaga pemerintahan, institusi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi. Dengan memperkuat peran perempuan dan pendidik sebagai agen perubahan, diharapkan tercipta generasi yang lebih sadar akan pentingnya kesetaraan gender dan harmoni sosial.

(Rezha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *